Nicky Lintang

A24100042

Laskar 7

Bandel Itu Wajar

Sedikit sekali orang yang menyangka bahwa ternyata saya ini adalah anak yang bandel. Mungkin jika saya menceritakan kehidupan saya sewaktu SMA sangat sedikit sekali orang yang mempercayainya. Dulu saya menjadi salah satu siswi SMA negeri di Yogyakarta. Saya memiliki 5 orang sahabat yang menemani suka duka saya. Pada masa SMA saya dan kelima sahabat saya sering sekali membolos pada pelajaran yang tidak kami sukai. Pelajaran tersebut adalah sejarah, kewarganegaraan, dan seni rupa. Kami sering sekali bolos dan titip absen ketika pelajaran itu berlangsung. Tidak hanya itu saja, kami berenam juga sering sekali melanggar tata tertib sekolah. Kami sering diberi sanksi namun tidak ada satu pun dari kami yang jera.

Waktu terus menerus berlalu. Akhir kelas 3 pun kami alami dengan mencari universitas yang terbaik untuk kami. Formulir PMDK dari Universitas Indonesia dan Institut Pertanian Bogor pun dating. Awalnya kami hanya ingin coba-coba. Ketiga sahabat saya mencoba PMDK UI dan saya sendiri mencoba PMDK IPB. Dan alhasil kami berempat diterima di universitas masing-masing. Kemudian 2 dari sahabat saya akhirnya diterima di Universitas Gajah Mada. Cerita saya ini menunjukkan bahwa tidak selamanya remaja yang bandel itu memiliki masa depan yang suram.

Nicky Lintang

A24100042

Laskar 7

Tiga Karung Beras

Ini adalah makanan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kisah ini adalah kisah nyata sebuah keluarga yang sangat miskin, yang memiliki seorang anak laki-laki. Ayahnya sudah meninggal dunia, tinggalah ibu dan anak laki-lakinya untuk saling menopang. Ibunya bersusah payah seorang membesarkan anaknya, saat itu kampung tersebut belum memiliki listrik. Saat memasuki musim gugur, sang anak memasuki sekolah menengah atas.

Tetapi justru saat itulah ibunya menderita penyakit rematik yang parah sehingga tidak bisa lagi bekerja disawah. Saat itu setiap bulannya murid-murid diharuskan membawa tiga puluh kg beras untuk dibawa kekantin sekolah. Sang anak mengerti bahwa ibuya tidak mungkin bisa memberikan tiga puluh kg beras tersebut.

Dan kemudian berkata kepada ibunya: ” Ma, saya mau berhenti sekolah dan membantu mama bekerja disawah”. Ibunya mengelus kepala anaknya dan berkata, “Kamu memiliki niat seperti itu mama sudah senang sekali tetapi kamu harus tetap sekolah. Jangan khawatir, kalau mama sudah melahirkan kamu, pasti bisa merawat dan menjaga kamu. Cepatlah pergi daftarkan ke sekolah nanti berasnya mama yang akan bawa kesana”.

Karena sang anak tetap bersikeras tidak mau mendaftarkan kesekolah, mamanya menampar sang anak tersebut. Dan ini adalah pertama kalinya sang anak ini dipukul oleh mamanya. Sang anak akhirnya pergi juga kesekolah. Sang ibunya terus berpikir dan merenung dalam hati sambil melihat bayangan anaknya yang pergi menjauh.

Tak berapa lama, dengan terpincang-pincang dan nafas tergesa-gesa Ibunya datang kekantin sekolah dan menurunkan sekantong beras dari bahunya. pengawas yang bertanggung jawab menimbang beras dan membuka kantongnya dan mengambil segenggam beras lalu menimbangnya dan berkata : ” Kalian para wali murid selalu suka mengambil keuntungan kecil, kalian lihat, disini isinya campuran beras dan gabah. Jadi kalian kira kantin saya ini tempat penampungan beras campuran”. Sang ibu ini pun malu dan berkali-kali meminta maaf kepada ibu pengawas tersebut. Awal Bulan berikutnya ibu memikul sekantong beras dan masuk kedalam kantin. Ibu pengawas seperti biasanya mengambil sekantong beras dari kantong tersebut dan melihat. Masih dengan alis yang mengerut dan berkata: “Masih dengan beras yang sama”. Pengawas itupun berpikir, apakah kemarin itu dia belum berpesan dengan Ibu ini dan kemudian berkata : “Tak perduli beras apapun yang Ibu berikan kami akan terima tapi jenisnya harus dipisah jangan dicampur bersama, kalau tidak maka beras yang dimasak tidak bisa matang sempurna. Selanjutnya kalau begini lagi, maka saya tidak bisa menerimanyaā€¯. Sang ibu sedikit takut dan berkata : “Ibu pengawas, beras dirumah kami semuanya seperti ini jadi bagaimana? Pengawas itu pun tidak mau tahu dan berkata : “Ibu punya berapa hektar tanah sehingga bisa menanam bermacam-
macam jenis beras”. Menerima pertanyaan seperti itu sang ibu tersebut akhirnya tidak berani berkata apa-apa lagi.

Awal bulan ketiga, sang ibu datang kembali kesekolah. Sang pengawas kembali marah besar dengan kata-kata kasar dan berkata: “Kamu sebagai mama kenapa begitu keras kepala, kenapa masih tetap membawa beras yang sama. Bawa pulang saja berasmu itu !”. Dengan berlinang air mata sang ibu pun berlutut di depan pengawas tersebut dan berkata: “Maafkan saya bu, sebenarnya beras ini saya dapat dari mengemis”. Setelah mendengar kata sang ibu, pengawas itu kaget dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sang ibu tersebut akhirnya duduk diatas lantai, menggulung celananya dan memperlihatkan kakinya yang sudah mengeras dan membengkak. Sang ibu tersebut menghapus air mata dan berkata: “Saya menderita rematik stadium terakhir, bahkan untuk berjalan pun susah, apalagi untuk bercocok tanam. Anakku sangat mengerti kondisiku dan mau berhenti sekolah untuk membantuku bekerja disawah. Tapi saya melarang dan menyuruhnya bersekolah
lagi.

Nicky Lintang

A24100042

Laskar 7

Bandel Itu Wajar

Sedikit sekali orang yang menyangka bahwa ternyata saya ini adalah anak yang bandel. Mungkin jika saya menceritakan kehidupan saya sewaktu SMA sangat sedikit sekali orang yang mempercayainya. Dulu saya menjadi salah satu siswi SMA negeri di Yogyakarta. Saya memiliki 5 orang sahabat yang menemani suka duka saya. Pada masa SMA saya dan kelima sahabat saya sering sekali membolos pada pelajaran yang tidak kami sukai. Pelajaran tersebut adalah sejarah, kewarganegaraan, dan seni rupa. Kami sering sekali bolos dan titip absen ketika pelajaran itu berlangsung. Tidak hanya itu saja, kami berenam juga sering sekali melanggar tata tertib sekolah. Kami sering diberi sanksi namun tidak ada satu pun dari kami yang jera.

Waktu terus menerus berlalu. Akhir kelas 3 pun kami alami dengan mencari universitas yang terbaik untuk kami. Formulir PMDK dari Universitas Indonesia dan Institut Pertanian Bogor pun dating. Awalnya kami hanya ingin coba-coba. Ketiga sahabat saya mencoba PMDK UI dan saya sendiri mencoba PMDK IPB. Dan alhasil kami berempat diterima di universitas masing-masing. Kemudian 2 dari sahabat saya akhirnya diterima di Universitas Gajah Mada. Cerita saya ini menunjukkan bahwa tidak selamanya remaja yang bandel itu memiliki masa depan yang suram.

di cyber student center